Minggu, 09 Maret 2014

SULFONAMIDA

Sulfonamida
Sulfonamida merupakan kelompok zat antibakteri dengan rumus dasar yang sama,yaitu H2N-C2H-SO2NHR, dan R adalah bermacam- macam substituen. Pada prinsipnya senyawa- senyawa ini dapat digunakan untuk menghadapi berbagai infeksi.
      Aktifitas dan Mekanisme kerja
Obat ini memilik kerja bakteriostatis yang luas terhadap bakteri gram –postif dan gram – negatif; terhadap Pseudomonas , Proteus dan streptococcus faecalis tidak aktif.
Mekanisme kerjanya berdasarkan pencegahan sintesis (dihidro)folat dalam kuman dengan cara antagonisme saingan denga PABA. Banyak jenis bakteri membutuhkan asam folat untuk membangun asam-asam intinya DNA dan RNA. Asam folat ini dibentuknya sendiri dari bahan-pangkal PABA(=para-aminobenzoid acid)  yang terdapat dimana-mana dalam tubuh manusia.
      Penggunaan
Sulfonamida adalah kemoterapeutika berspektrum luas yang ditahun 1950-an sampai dengan 1970-an banyak digunakan terhadap bermacam-macam penyakit infeksi oleh baik kuman gram-positif maupun negatif dengan sukses. Sejak tahun 1980-an , penggunaannya sudah banyak sekali berkurang karena telah ditemukan berbagai antibiotik baru dengan efek bakterisid yang lebih efektif dan aman. Penggunaan oral sulfonamid dan senyawa-senyawa kombinasinya yakni sebagai
a.    Infeksi saluran kemih: sulfametizole, sulfafurazol, dan kotrimoksazol sering digunakan sebagai desinfektan gangguan saluran kemih bagian atas yang menahun.
b.    Infeksi mata: sulfasetamida, sulfadikramida, dan sulfametizole digunakan sebagai infeksi mata disebabkan oleh kuman-kuman yang peka terhadap sulfonamid.
c.    Radang usus: sulfasalazin: khusus digunakan pada penyakit radang usus kronis Crohn dan Colitis.
d.    Malaria topica
e.    Radang otak

*      Efek samping
Kerusakan parah pada sel-sel darah, yang berupa antara lain agranulositosis dan anemia hemolitis. Reaksi alergi , gangguan saluran cerna(mual,muntah, diare dan sebagainya). Bahaya kristaluria.
*      Dosis
  1. Sulfonamide kerja singkat rata-rata digunakan 50-100 mg/kg bobot badan per hari secara oral
  2. Sulfonamide kerja sedang rata-rata digunakan 25-50 mg/kg bobot badan per hari secara oral
  3. Sulfonamide kerja panjang rata-rata digunakan 10-20 mg/kg bobot badan per hari secara oral
*      Interaksi obat
Sulfonamid dapat berinteraksi dengan antikoagulan oral, antidiabetik sulfonylurea dan fenitoin. Penggunaan sulfonamide sebagai obat pilihan pertama dan untuk pengobatan penyakit infeksi tertentu makin terdesak oleh perkembangan obat antimikroba lain yang lebih efektif serta meningkatkanjumlah mikroba yang resisten terhadap sulfa. Namun peranannya meningkat kembali dengan di temukannya kotrimoksazol.
*      * Kontra indikasi
Tidak digunakan pada pasien penyakit ginjal, insufiensi jantung, porfiria akut, defisiensi bawaan dari glukosa-6-fosfat-dehidrigenase, kerusakan parenkim hati, hipersensitifitas terhadap sulfonamide, wanita hamil, dan bayi baru lahir.

andadwihandayani.blogspot.com/2012/10/sulfonamida.html‎ 

OBAT GOLONGAN MAKROLIDA

ERITROMISIN
Eritromisin termasuk golongan makrolida -  Streptomyces erythreus
Yang termasuk golongan makrolida yang lain adalah:
—Karbomisin A dari  Streptomyces halstedii
—Calkomisin  Streptomyces bikiniensis
—Josamisin  Streptomyces kitasatoensis
—Oleandomisin           Streptomyces antibioticus
—Spiramisin  Streptomyces ambofaciens
—Tilosin  Streptomyces fradiae
Sifat Kimia eritromisin:
-   Stabil dalam suasana asam
—Zat berupa kristal kuning.
—Kelarutan dalam air 2g/ml
—Kurang stabil pada suhu kamar,
—Stabil pada suhu rendah
—Larutan netral eritromisin yang disimpan pada suhu kamar potensinya menurun dalam beberapa hari.
—Pada suhu 5 derajat C tahan sampai beberapa minggu.
AKTIFITAS ANTIMIKROBA
—Berdaya kerja bakterisida dan bakteriostatika tergantung mikroorganisme dan konsentrasinya.
—Secara invitro efek terbesar pada Coccus gram positif:
  •  Staphyllococcus aureus,
  •  Enterococcus
  •  Streptococcus
  • Pneumococcus
—Pada konsentrasi rendah menghambat kuman gram- :
  • Neisseria
  • Haemophyllus influenzae
  • Rickettsia
  • Mikoplasma pneumonia
RESISTENSI
—Resistensi terhadap eritromisin terjadi melalui 3 mekanisme yang diperantarai oleh plasmid yaitu:
  1. Menurunnya permeabilitas sel kuman
  2. Berubahnya reseptor obat pada ribosom kuman
  3. Hidrolisis obat oleh esterase yang dihasilkan oleh Enterobacteriace
MEKANISME KERJA
—Eritromisin dapat mengganggu ikatan kloramfenikol dengan bakteri karena tempat kerjanya sama.
—Ikatan eritromisin dengan ribosom bakteri reversible   , dan hanya terjadi jika sub unit 50 S bebas dari molekul t-RNA yang mengandung peptide asal.
—Eritromisin menghambat sintesis protein kuman.
FARMAKOKINETIK
—Eritromisin basa diabsorpsi baik di usus halus bagian atas. Adanya makanan akan memperlambat absorpsi.
—Aktivitasnya hilang oleh getah lambung sehingga dibuat dalam bentuk sediaan tablet salut enteric atau dibuat dalam bentuk ester stearat atau ester suksinat
—Absorpsi terbaik : eritromisin estolat
—Konsentrasi puncak dalam plasma  setelah 4 jam.
—Eritromisin mengalami pemekatan di jaringan hati .
—Kadar obat aktif dalam empedu dapat melebihi 100 x dari pada dalam darah.
—Waktu paruh : 1,6 jam
—Keadaan insufisiensi ginjal tidak perlu modifikasi dosis.
—Aktivitasnya luas kecuali ke cairan serebrospinal dan otak.
—Berpenetrasi dalam cairan prostat, dan melewati barier plasenta.
—Kadar obat dalam fetus 5-20% dari kadar di sirkulasi ibu.
—Eritromisin diekskresi melalui hati dan empedu.
—Hanya 2-5% yang diekskresi melalui urin dari pemberian oral, 12-15% dari pemberian i.v.
Efek samping dan toksisitas:
Efek samping yang berbahaya jarang terjadi.
  • Reaksi alergi;
—Demam, eosinofilia, erupsi kulit yang cepat hilang.
—Eritromisin estolat dapat menimbulkan hepatitis kolestatik dengan gejala sakit perut, mual, muntah, ikterus, demam.
  • Reaksi iritatif:
—Eritromisin menimbulkan iritasi baik oral atau parenteral.
—1 g oral dapat menimbulkan perasaan tidak enak pada epigastrum.
—100 mg i.m dapat menimbulkan rasa sakit yang kuat.
  • Reaksi Biologik:
—Superinfeksi mungkin timbul terhadap bakteri Gram – dan jamur, misal: kandida.
—Ketulian sementara dapat timbul karena pemberian eritromisin i.v dosis tinggi.
—
Indikasi
  • Infeksi Mycoplasma pneumoniae eritromisin 4x500mg  sehari  peroral
  • Pneumonia yang disebabkan oleh Legionella pneumophila, oral   4 x 0,5-1g sehari atau i.v 1-4 g  sehari
  • Infeksi klamidia: merupakan alternatif selain tetrasiklin.
  • Dosis: 4x sehari 500 mg oral selama 7 hari, merupakan obat  terpilih bagi anak-anak dan ibu hamil.
  • Difteri akut maupun carrier efektif dg eritromisin
  • Pertusis, bila diberikan pada awal infeksi mempercepat penyembuhan.
  • Faringitis: dosis awal 30 mg/kg BB selama 10 hari.
  • Tetanus, Sifilis, dan Gonorhoe.
Interaksi
—Dapat meningkatkan kerja:
—- karbamazepin,
—- kortikosteroida, dan
—- digoksin
—karena mempengaruhi metabolismenya
—Jika diberikan bersama teofilin dapat meningkatkan toksisitas teofilin

dininatanegara99.wordpress.com/2011/11/10/golongan-makrolida/‎ 

DAFTAR BERBAGAI OBAT PENENANG

Obat penenang adalah zat yang menginduksi sedasi dengan mengurangi iritabilitas atau kegembiraan. Pada dosis yang lebih tinggi dapat menyebabkan bicara cadel, gerakan mengejutkan, penilaian yang buruk, dan terlambatnya refleks. Dokter sering memberikan obat penenang kepada pasien dalam rangka untuk menngurangi kecemasan pasien yang berkaitan dengan prosedur menyakitkan atau kecemasan-merangsang.
Meskipun obat penenang tidak meringankan rasa sakit, tetapi dapat menjadi tambahan yang berguna untuk analgesik dalam mempersiapkan pasien untuk pembedahan, dan biasanya diberikan kepada pasien sebelum mereka dibius, atau sebelum prosedur yang sangat tidak nyaman dan invasif lain seperti kateterisasi jantung, kolonoskopi atau MRI.

Pasien di unit perawatan intensif hampir selalu dibius(kecuali mereka tidak sadar dari kondisi mereka pula.
Dosis obat penenang seperti benzodiazepin bila digunakan sebagai hipnosis untuk menginduksi tidur cenderung lebih tinggi daripada yang digunakan untuk meredakan kecemasan di mana karena hanya dosis rendah yang diperlukan untuk memberikan efek menenangkan obat penenang. Sedatif dapat disalahgunakan untuk menghasilkan efek terlalu-menenangkan (alkohol yang obat penenang klasik dan paling umum). Pada dosis tinggi atau ketika mereka disalahgunakan, banyak dari obat-obatan ini dapat menyebabkan ketidaksadaran dan bahkan kematian.
Ada beberapa tumpang tindih antara istilah penenang dan hipnosis. Meskipun efek yang dijelaskan oleh dua istilah yang berbeda, obat-obatan yang menyebabkan efek yang dijelaskan oleh salah satu istilah yang sering juga menyebabkan efek yang dijelaskan dengan istilah lain.

  • Barbiturates
    • amobarbital (Amytal)
    • Pentobarbital (Nembutal)
    • secobarbital (Seconal)
    • Phenobarbitol (Luminal)
  • Benzodiazepines (nama perdagangan)
    • clonazepam (Klonopin N.America Rivotril Eropa, Asia)
    • Diazepam (Valium)
    • estazolam (Prosom)
    • flunitrazepam (Rohypnol)
    • Lorazepam (Ativan)
    • midazolam (Versed)
    • nitrazepam (Mogadon)
    • oxazepam (Serax)
    • triazolam (Halcion)
    • temazepam (Restoril, Normison, Planum, Tenox, dan Temaze)
    • chlordiazepoxide (Librium)
    • alprazolam (Xanax)
  • Herbal sedatif
    • ashwagandha
    • Duboisia hopwoodii
    • Prosanthera striatiflora
    • catnip
    • kava (Piper methysticum)
    • Mandrake
    • Valerian
    • Ganja
  • Nonbenzodiazepine “Z-obat” sedatif
    • eszopiclone (Lunesta)
    • zaleplon (Sonata)
    • zolpidem (Ambien)
    • zopiclone (Imovane, -Zimovane)
  • Antihistamin
    • Diphenhydramine
    • Dimenhydrinate
    • Doxylamine
    • Phenergan
    • Promethazine
Lain
  • Klor hidrat
  • Alkohol (meskipun tidak medis digunakan, sangat populer di kalangan masyarakat)

http://farmasiobat.wordpress.com/2013/12/14/daftar-lengkap-berbagai-jenis-obat-penenang/ 
 

MACAM-MACAM SEDIAAN OBAT

Berikut macam macam sedian obat berdasarkan dari dFarmakope Inndonesia Edisi IV, macam macam sedian umum tersebut sebagai berikut :

1.   Aerosol
Sediaan yang dikemas di bawah tekanan, mengandung zat aktif terapeutik yang dilepas pada saat system katup yang sesuai di tekan. Sedian ini digunakan untuk pemakaian topical pada kulit dan juga untuk pemakaian lokal pada hidung.

2.   Kapsul
Sediaan padat yang tediri dari obat dalam cangkang keras atau lunak yang dapat larut.

3.   Tablet
Sedian padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi.

4.   Krim
Sediaan setengah padat mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai.

5.   Emulsi
Sistem dua fase, yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan yang lain, dalam bentuk tetesan kecil.

6.   Ekstrak
Sediaan pekat yang di peroleh dengan mengekstraksi zat aktif dari simpliisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai kemudian semua atau hamper semua pelarut di uapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlukan sedemikian rupa sehingga memenuhi syarat yang ditetapkan.

7.   Gel (geli)
Sistem semi padat terdiri dari suspense yang di buat partikel anorganik yang kecil ayau molekul organic yang besar, terpenetrsai oleh suatu cairan.

8.   Imunoserum
Adalah sediaan yang mengandung immunoglobulin khas yang di perlukan dari serum hewan dengan pemurnian.

9.   Implan atau Pelet
Sedian dengan massa padat berukuran kecil, berisi obat dengan kemurnian tinggi (dengan atau tanpa eksipien), dibuat dengan cara pengempaan atau pencetakan.

10. Infusa
Sediaan cair yang dibuat dengan mengekstraksi simplisia nabati dengan air pada suhu 90’ selama 15 menit.

11. Inhalasi
Sediaan obat atau larutan atau suspensi terdiri dari satu atau lebih bahan obat yang diberikan melalui saluran nafas hidung atau mulut untuk memperoleh efek local atau sistemik.

 12. Injeksi
Sediaan steril untuk kegunaan parenteral, yaitu dibawah atau menembus kulit atau selaput lender.

13. Irigasi
Larutan steril yang digunakan untuk mencuci atau membersihkan luka terbuka atau ronggga rongga tubuh, penggunaan adalah secara topical.

14. Lozenges atau tablet hisap
Sediian padat yang mengandung satu atau lebih bahan obat, umumnya dengan bahan dasar beraroma manis, yang dapat membuat tablet melarut atau hancur perlahan dalam mulut.

15. Sediaan Obat mata
·         Salep mata
Salep steril yang digunakan pada mata.
·         Larutan Obat mata
Larutan steril bebas partikel asing merupakan sediaan yang dibuat dan dikemas sedimikian rupa hingga sesuai di gunakan untuk mata.

16. Pasta
Sediaan semi padata yang mengandung satu atau lebih bahan yang di tujukan untuk pemakaiaan topical.

17. Plester
Bahan yang digunakan untuk pemakaian luar terbuat dari bahan yang dapat melekat pada kulit dan menempel pada pembalut.

18. Serbuk
Campuran kering bahan obat atau zat kimia yang dihaluskan, berupa serbuk yang dibagi bagi (pulveres) atau serbuk yang tak terbagi. (pulvis).

19. Solutio atau larutan
Sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang terlarut. Taerbagi atas :
@     Larutan Oral
Sediaan cair yang dimasukan untuk pemberian oral.

§         Larutan tipikal
Sediaan cair yang dimasukan untuk penggunaan topical paad atau mukosa.

§         Larutan Otik
Sediaan cair yang dimasukan untuk penggunaan dalam telinga.

§         Larutan Optalmik
Sediaan cair yang digunakan pada mata.

§         Spirit
Larutan mengandung etanol atau hidroalkohol dari zat yang mudah menguap.

§         Tingtur
Larutan mengandung etanol atau hidro alcohol di buat dari bahan tumbuhan atau senyawa kimia.

20. Suppositoria
Sediaan padat dalam bergabai bobot dan bentuk yang diberikan melalui rectal, vagina atau eretra, umunya meleleh, melunak atau melarut pada suhu tubuh.

obatindo.blogspot.com/2010/11/macam-macam-sediaan-obat.html‎ 

OBAT DAN SEDIAAN FARMASI

neogalih.blogspot.com › Materi Farmasi‎
Pengertian Obat Secara Umum
Obat ialah semua bahan tunggal/campuran yang dipergunakan oleh semua makhluk untuk bagian dalam maupun luar, guna mencegah, meringankan ataupun menyembuhkan penyakit.
Menurut undang – undang yang dimaksud obat ialah suatu bahan atau bahan-bahan yang dimaksudkan untuk dipergunakan dalam menetapkan diagnosa, mencegah , mengurangi, menghilangkan, menyembuhkan penyakit atau gejala penyakit, luka atau kelainan badaniah atau rohaniah pada manusia atau hewan, untuk memperelok badan atau bagian badan manusia.
Pengertian Obat Secara Khusus
1
Obat Jadi
Yakni obat dalam keadaan murni atau campuran dalam bentuk serbuk, cairan, salep, tablet, pil, suppositoria atau bentuk lain yang mempunyai teknis sesuai dengan Farmakope Indonesia atau buku lain yang ditetapkan oleh pemerintah.
2
Obat Patent
Yakni obat jadi dengan nama dagang yang terdaftar atas nama si pembuat pembuat yang dikuasakannya dan dijual dalam bungkus asli dari pabrik yang memproduksinya.
3
Obat Baru
Yakni obat yang terdiri atau berisi zat, baik sebagai bagian yang berkhasiat, ataupun yang tidak berkhasiat, misalnya lapisan, pengisi, pelarut, pembantu atau komponen lain, yang belum dikenal sehingga tidak diketahui khasiat dan kegunaannya.
4
Obat Asli
Yakni obat yang didapat langsung dari bahan-bahan alamiah Indonesia, terolah secara sederhana atas dasar pengalaman dan digunakan dalam pengobatan tradisional.
5
Obat Esensial
Adalah obat yang paling dibutuhkan untuk pelayanan kesehatan masyarakat terbanyak dan tercantum dalam Daftar Obat Esensial yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan
6
Obat Generik
Adalah obat dengan nama resmi yang ditetapkan dalam Farmakope Indonesia untuk zat berkhasiat yang dikandungnya.
Penggolongan Obat
Macam-macam penggolongan obat :
1. Menurut kegunaannya obat dapat dibagi :
a). untuk menyembuhkan (terapeutic)
b). untuk mencegah (prophylactic)
c). untuk diagnosa (diagnostic)
2. Menurut cara penggunaan obat dapat dibagi :
a). Medicamentum ad usum internum (pemakaian dalam), adalah obat yang digunakan melalui orang dan diberi tanda etiket putih
b). Medicamentum ad usum externum (pemakaian luar), adalah obat yang cara penggunaannya selain melalui oral dan diberi tanda etiket biru. Contohnya implantasi, injeksi, topikal, membran mukosal, rektal, vaginal, nasal, opthal, aurical, collutio/gargarisma.
3. Menurut cara kerjanya obat dapat dibagi :
a). Lokal, adalah obat yang bekerjanya pada jaringan setempat, seperti obat – obat yang digunakan secara topikal pemakaian topikal. Contohnya salep, linimenta dan cream
b). Sistemis, adalah obat yang didistribusikan keseluruh tubuh. Contohnya tablet, kapsul, obat minum dan lain – lain.
4. Menurut undang-undang kesehatan obat digolongkan dalam :
a). Obat narkotika (obat bius), merupakan obat yang diperlukan dalam bidang pengobatan dan ilmu pengetahuan dan dapat pula menimbulkan ketergantungan yang sangat merugikan apabila dipergunakan tanpa pembatasan dan pengawasan.
b). Obat Psikotropika (obat berbahaya), obat yang mempengaruhi proses mental, merangsang atau menenangkan, mengubah pikiran/perasaan / kelakuan orang.
c). Obat keras adalah semua obat yang :
§ mempunyai takaran maksimum atau yang tercantum dalam daftar obat keras.
§ diberi tanda khusus lingkaran bulat berwarna merah dengan garis tepi berwarna hitam dengan huruf K yang menyentuh garis tepi.
§ obat baru , kecuali dinyatakan Departemen Kesehatan tidak membahayakan
§ semua sediaan parenteral
d). Obat Bebas Terbatas adalah obat keras yang dapat diserahkan tanpa resep dokter dengan penyerahan dalam bungkus aslinya dan diberi tanda peringatan (P1 s/d P6)
e). Obat Bebas adalah obat yang dapat dibeli secara bebas, dan tidak membahayakan bagi si pemakai dan diberi tanda lingkaran hijau dengan garis tepi berwarna hitam.
Sumber Obat
Obat yang kita gunakan ini berasal dari berbagai sumber antara lain :
1. Tumbuhan (flora, nabati), seperti digitalis folium, kina, minyak jarak.
2. Hewan (fauna, hayati) seperti minyak ikan, adeps lanae, cera.
3. Mineral (pertambangan) seperti kalium iodida, garam dapur, parafin, vaselin.
4. Sintetis (tiruan/buatan) seperti kamfer sintetis, vitamin C
5. Mikroba seperti antibiotik penicillin dari Penicillium notatum.
Dari sumber-sumber ini supaya lebih sederhana dan lebih mudah dalam pemakaian dan penyimpanan masih harus diolah menjadi sediaan kimia dan sediaan galenis. Contoh :
Simplisia
Preparat Kimia
Preparat Galenis
Belladonnae herba
Atropin sulfas
Scopolamini hydrobromidum
Belladonna extractum
Belladonnae tinctura
Opium
Morphini hydrochloridum
Codeini Hydrochloridum
Opii extractum
Opii tinctura